EKONOMI TUMBUH 5,61%, PURBAYA BUNGKAM PENGAMAT PESIMISTIS

Ekonomi
Redaksi Federasi Note
Redaksi Federasi Note
1 minggu yang lalu 11:29 WIB 41x dilihat
Pertumbuhan ekonomi nasional yang menembus angka 5,61 persen menjadi sorotan tajam di tengah ketidakpastian ekonomi global. Saat banyak negara masih berjibaku dengan tekanan inflasi, perlambatan perdagangan, hingga ketegangan geopolitik, capaian ini disebut sebagai “kejutan besar” yang melampaui ekspektasi sebagian analis.

Angka tersebut langsung memantik perdebatan. Sejumlah pengamat sebelumnya memprediksi pertumbuhan akan tertahan di kisaran 4,9–5,2 persen, seiring melemahnya permintaan global dan fluktuasi harga komoditas. Namun realisasi 5,61 persen justru memperlihatkan daya tahan domestik yang dinilai lebih kuat dari perkiraan.

Dalam berbagai kesempatan, Ketua Dewan Komisioner LPS, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan optimisme bahwa fondasi ekonomi Indonesia masih solid. Ia bahkan menyindir sebagian analis yang terlalu pesimistis dengan menyebutnya sebagai “pengamat sesat” karena dinilai gagal membaca kekuatan konsumsi domestik, stabilitas sektor perbankan, serta momentum investasi.

Menurut Purbaya, pertumbuhan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan dari terjaganya daya beli masyarakat, ekspansi sektor industri pengolahan, serta belanja pemerintah yang tetap agresif namun terukur. Ia juga menegaskan bahwa stabilitas sektor keuangan menjadi bantalan penting ketika tekanan eksternal meningkat.

Pernyataan tersebut memicu respons beragam. Sebagian ekonom menilai optimisme itu wajar mengingat konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung pertumbuhan. Namun ada pula yang mengingatkan agar pemerintah dan otoritas tidak terlena, karena tantangan eksternal masih membayangi, mulai dari potensi perlambatan ekonomi mitra dagang utama hingga gejolak pasar keuangan global.

Di tengah silang pendapat itu, capaian 5,61 persen tetap menjadi pesan kuat bahwa ekonomi domestik memiliki daya lenting. Optimisme yang dilontarkan Purbaya kini menjadi simbol perlawanan terhadap narasi pesimisme yang selama ini mendominasi diskursus ekonomi.

 Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Indonesia mampu bertahan, melainkan sejauh mana momentum ini bisa dijaga dalam beberapa kuartal ke depan.

Jika tren positif berlanjut, maka klaim optimisme itu bukan sekadar retorika—melainkan pembuktian bahwa strategi menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan berjalan beriringan di tengah badai global yang belum sepenuhnya reda.

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Copyright © 2025 FEDERASI NOTE — All rights reserved