Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara paling kuat menghadapi krisis energi global pada 2026. Dalam daftar yang dirilis lembaga riset internasional dan dipublikasikan oleh kanal ekonomi Agenda Indonesia, Indonesia meraih skor ketahanan 77 persen, berada tepat di bawah Afrika Selatan yang mencatat 79 persen.
Peringkat ini menempatkan Indonesia di atas sejumlah negara besar seperti China (76 persen) dan Amerika Serikat (70 persen). Sementara itu, Australia, Swedia, Pakistan, Rumania, Peru, dan Kolombia turut melengkapi daftar sepuluh besar negara paling tangguh dalam menghadapi gejolak energi dunia.
Penilaian ketahanan tersebut umumnya mengacu pada sejumlah indikator, mulai dari ketersediaan cadangan energi domestik, kemampuan diversifikasi sumber energi, stabilitas kebijakan pemerintah, hingga daya beli masyarakat terhadap fluktuasi harga global.
Bagi Indonesia, posisi ini tidak terlepas dari peran sebagai salah satu produsen batu bara dan gas alam utama di kawasan Asia, serta langkah percepatan hilirisasi sumber daya alam dan pengembangan energi baru terbarukan. Kebijakan pengendalian harga energi di dalam negeri juga dinilai mampu meredam dampak lonjakan harga minyak dan gas internasional terhadap inflasi domestik.
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa ketahanan energi bersifat dinamis. Tantangan transisi energi, tekanan geopolitik, dan ketergantungan terhadap impor minyak mentah tetap menjadi faktor risiko yang harus diantisipasi. Pemerintah didorong memperkuat bauran energi nasional, mempercepat investasi energi terbarukan, serta meningkatkan efisiensi distribusi agar posisi Indonesia tetap solid di tengah ketidakpastian global.
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!