Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penjelasan terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini berada di kisaran Rp17.600 per dolar AS pada kuartal I tahun 2026. Pernyataan tersebut disampaikan untuk menanggapi kekhawatiran masyarakat soal potensi kenaikan harga barang dan tekanan ekonomi akibat penguatan dolar AS. Purbaya menegaskan bahwa kondisi tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap harga kebutuhan di dalam negeri karena tingkat inflasi Indonesia masih berada dalam kondisi rendah dan terkendali.
Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini justru menunjukkan tren positif dengan capaian sebesar 5,61 persen secara year-on-year (yoy), yang menjadi pertumbuhan tertinggi sejak kuartal III tahun 2022. Selain itu, tekanan inflasi hingga April 2026 juga masih terjaga di level 2,42 persen, sesuai target pemerintah. Menurutnya, stabilitas inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang kuat menjadi faktor utama yang menjaga daya beli masyarakat tetap aman meskipun nilai tukar rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS.
Purbaya juga menilai kondisi ekonomi nasional masih cukup solid di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu. Pemerintah, kata dia, akan terus memantau pergerakan pasar dan menjaga stabilitas ekonomi agar tidak berdampak langsung pada kehidupan masyarakat maupun harga barang di pasar domestik.
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!