diserang termul, jusuf kalla & pdip serang jokowi jokowi, ungkap penghianatannya

NASIONAL
Redaksi Federasi Note
Redaksi Federasi Note
3 minggu yang lalu 17:52 WIB 48x dilihat
Hubungan antara Joko Widodo, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), dan Jusuf Kalla tidak lagi berada dalam satu garis lurus kepentingan politik. Apa yang dulu terlihat sebagai konsolidasi kekuatan nasionalis kini berubah menjadi pertarungan tafsir tentang loyalitas, pengaruh, dan masa depan kekuasaan.
Pada awal kemunculannya, Jokowi adalah kader politik yang diusung penuh oleh PDIP. Partai tersebut menjadi kendaraan utama yang mengantarkannya ke kursi presiden dua periode. Namun dalam periode kedua, Jokowi menunjukkan kecenderungan membangun poros kekuasaan yang lebih cair — tidak sepenuhnya terkunci pada struktur partai.
Di sinilah benih konflik muncul.

PDIP membaca langkah-langkah politik Jokowi sebagai bentuk pelepasan diri dari kontrol partai. Dalam tradisi politik Indonesia yang masih sangat bertumpu pada patronase dan garis komando partai, sikap independen semacam itu mudah ditafsirkan sebagai pembangkangan. Narasi “pengkhianatan” lahir bukan dalam arti hukum, melainkan dalam arti politis: meninggalkan garis perjuangan partai yang membesarkan.
Sementara itu, Jusuf Kalla mengambil posisi berbeda. Ia tidak berada dalam struktur PDIP, tetapi dalam sejumlah pernyataan publiknya, ia menyoroti isu demokrasi, netralitas kekuasaan, dan etika politik. Kritik tersebut mempertegas kesan bahwa ada kelompok elite lama yang melihat arah kepemimpinan Jokowi telah berubah dari semangat awal reformasi.
Namun jika ditarik lebih dalam, ini bukan sekadar konflik personal.

Ini adalah benturan antara dua model kekuasaan:
Model kekuasaan berbasis partai ideologis, yang menuntut loyalitas struktural.
Model kekuasaan berbasis figur dan jaringan pragmatis, yang lebih fleksibel dan transaksional.

Jokowi tampak memilih model kedua. Ia membangun koalisi luas lintas partai, memperkuat posisi melalui dukungan parlemen mayoritas, dan menjaga stabilitas politik hingga akhir masa jabatan. Dari sudut pandang stabilitas pemerintahan, langkah ini efektif. Namun dari sudut pandang partai pengusung, ini mengurangi dominasi dan kontrol politik mereka.

Isu “pengkhianatan” akhirnya menjadi alat retorik dalam perebutan legitimasi moral. Tidak ada putusan hukum, tidak ada pelanggaran konstitusi yang terbukti. Yang ada adalah pergeseran kesetiaan politik dan pertarungan arah pengaruh menjelang transisi kekuasaan nasional.

Dalam politik Indonesia, loyalitas seringkali tidak bersifat ideologis murni, melainkan kontekstual. Ketika kepentingan masa depan kekuasaan dipertaruhkan — terutama menjelang periode politik baru — friksi menjadi tak terhindarkan.

Pertanyaannya bukan lagi siapa mengkhianati siapa.
Pertanyaannya adalah: siapa yang berhasil mengendalikan narasi publik tentang legitimasi, moralitas politik, dan arah bangsa ke depan?

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Copyright © 2025 FEDERASI NOTE — All rights reserved